Minimum Viable Product, Tujuan dan Contohnya dalam Bisnis

Anda baru saja meluncurkan bisnis atau produk baru? Tentunya, ada berbagai persiapan untuk memperkenalkan produk baru ke pasaran.

Selain promosi yang menarik dan efektif, kita juga perlu melakukan riset, pengujian, dan studi lainnya. Akan tetapi, ada juga sejumlah pengusaha yang mengatakan bahwa membangun produk tidak perlu riset dari nol.

Meski terdengar aneh, namun strategi ini berhasil! Tengok saja bisnis seperti Dropbox dan Airbnb yang telah mengadopsi strategi tersebut. Dan sampai hari ini, bisnisnya masih terus berkibar.

Jika Anda ingin meniru kesuksesan Dropbox dan Airbnb, Anda perlu memikirkan untuk membangun Produk Berstandar Kelayakan Minimum atau MVP (Minimum Viable Product).

Minimum Viable Product adalah salah satu hal yang patut dipertimbangkan untuk mengukur reaksi publik atau pelanggan potensial terhadap produk baru.

Tertarik ingin mempelajari Minimum Viable Product lebih dalam? Lihat dan baca terus ulasan di bawah untuk pembahasan selengkapnya, ya!

Apa itu Minimum Viable Product?

Photo by ThisisEngineering RAEng on Unsplash

Menurut bahasa, Minimum Viable Product dapat diartikan sebagai suatu standar kelayakan produk yang paling minimum diterapkan perusahaan dalam membuat atau menghasilkan produk dan jasanya.

Standar minimum suatu produk yang dikatakan layak jual atau layak dikonsumsi ada banyak, tergantung pada apa jenis produknya. Misalnya, untuk jenis makanan dan minuman, maka standar minimum yang diterapkan harus lolos BPOM, tidak beracun, tidak berbahaya bagi kesehatan, dan lainnya.

Membangun bisnis rintisan yang baru, sudah sepatutnya penuh dengan penelitian dan pengembangan. Pelaku UMKM harus memiliki ide-ide yang “out of the box”. Selain itu, pebisnis juga perlu membuat produk atau jasa dan merencanakan investasi dalam pemasaran secara efektif.

Sedangkan, tujuan dari Minimum Viable Product adalah mengumpulkan umpan balik atau feedback sebelum merilis produk secara massal ke pasaran.

Apa tujuan dari Minimum Viable Product?

Photo by Boxed Water Is Better on Unsplash

Mungkin orang awam bertanya-tanya, kenapa sih harus menggunakan standar kelayakan produk minimum? Kenapa bukan standar kelayakan produk maksimum?

Nah, ketika Anda merencanakan peluncuran suatu produk atau layanan baru, yang Anda coba lakukan hanyalah memvalidasi hasil riset dan pengembangan tentang pasar dan perilaku konsumen.

Maka itu, sangat penting agar menguji hasil produk atau inovasi Anda secara  efektif, tapi tetap hemat biaya dan tidak boros sumber daya. Maka itu, diterapkan suatu sumber daya minimum untuk produksi awal.

Sumber daya minimum ini meliputi: biaya produksi kecil, waktu yang pendek, atau fitur paling minimum. Dari sinilah muncul istilah standar kelayakan produk minimum atau MVP (Minimum Viable Product).

Tercantum di bawah ini adalah manfaat utama memiliki Minimum Viable Product:

1. Menghindari risiko hasil produk/ layanan yang buruk.

Katakanlah, Anda adalah developer aplikasi seluler yang membantu orang menghitung berapa kali mereka keluar rumah. Tentunya, membangun aplikasi semacam ini tentunya butuh waktu hingga berbulan- bulan dan jutaan rupiah, bukan?

Padahal, ketika aplikasi ini dirilis pertama kali, hanya dalam hitungan hari, Anda baru menyadari bahwa sedikit orang atau bahkan tidak ada yang butuh aplikasi semacam ini.

Oleh karena itu, dibutuhkan Minimum Viable Product. Metode ini membantu Anda menghemat waktu dan uang yang dihabiskan untuk mengembangkan suatu produk baru.

Kuncinya adalah membangun pondasi awal atau pondasi dasar suatu produk atau jasa dan memahami keinginan pelanggan. Sehingga, nanti kalau produk sudah dirilis, produk atau jasa tersebut akan disukai dan bermanfaat bagi konsumen.

2. Membantu memahami produk Anda sendiri.

Langkah selanjutnya setelah MVP siap adalah mendapatkan umpan balik pengguna. Jadi, kadang-kadang, produk atau jasa apa yang sudah kita buat, ternyata bisa memiliki tujuan akhir yang berbeda dari persepsi yang Anda maksudkan semula.

Terdengar luar biasa, kan? Kok bisa? Mari kita ambil contoh pada kasus startup Bumble.

Bumble adalah aplikasi kencan yang dianggap kebanyakan orang sangat bermanfaat untuk memperluas pertemanan atau bersosialisasi. Dari tujuan awal ini, tim Bumble kemudian mengembangkan fitur yang disebut “Bumble Bizz”, yaitu platform yang bisa menghubungkan networking bagi kalangan profesional dan pebisnis.

Jadi, tujuan awal yang semula hanya sekadar aplikasi pertemanan, bisa dikembangkan menjadi beberapa fitur yang lebih luas manfaatnya.

3. Memvalidasi hasil riset secara cepat.

Sebelum Anda mulai bekerja untuk membuat produk, Anda mungkin sudah memiliki hasil riset di benak Anda, benar? Membuat dan meluncurkan MVP membantu Anda memvalidasi hasil riset tersebut.

Jika pengguna yang ikut menjadi partisipan untuk menguji MVP mau membeli produk atau jasa tersebut, maka ini adalah win-win solution untuk Anda. Tapi, kalau tidak, Anda mungkin harus menggunakan strategi lainnya.

Bagaimana cara membuat atau mengembangkan standar kelayakan produk minimum?

Photo by Firmbee.com on Unsplash

Sekarang setelah Anda mengetahui dasar-dasar MVP, berikut cara memulainya:

1. Identifikasi & pahami kebutuhan pasar.

Langkah pertama adalah mengidentifikasi apakah ada kebutuhan produk atau layanan tertentu di pasar. Lakukan analisis pada para kompetitor secara terperinci.

Kemudian, tentukan bagaimana Anda akan membuat produk Anda lebih menonjol.

Saat Anda sampai pada kesimpulan dari riset ini, Anda harus memiliki dua hal berikut:

· Apa tujuan jangka panjang?

Karena Anda akan memiliki pemahaman tentang pasar sekarang, Anda harus dapat memproyeksikan tujuan jangka panjang dan memiliki jawaban konkret untuk pertanyaan seperti apa yang Anda rencanakan untuk dicapai, apa yang akan menjadi metrik target, dll. .

· Apa kriteria keberhasilan Anda?

Metrik keberhasilan berbeda dari bisnis ke bisnis. Sangat penting bagi Anda untuk memiliki definisi sukses ketika Anda memulai usaha. Sehingga, memiliki pelacakan yang mudah di tempat.

2. Petakan perjalanan para pelanggan potensial.

Saat Anda mendesain produk atau layanan, penting untuk memetakan perjalanan pelanggan potensial Anda.

Luangkan waktu dan pelajari tentang perilaku dan pola mereka. Kuncinya adalah cobalah berada langsung di posisi pelanggan, kemudian teliti bagaimana perilaku mereka saat mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli.

3. Kenali apa saja kendala pelanggan.

Setelah berempati dan menempatkan diri di posisi pelanggan, tuliskan apa saja hambatan, masalah, atau kendala yang mungkin sering dihadapi pelanggan.

Lalu, tuliskan apa saja keuntungan dan fitur yang bisa ditawarkan untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Studi ini dapat membantu bisnis Anda menentukan apakah ternyata produk/ jasa Anda memiliki potensi yang bagus dalam menambah nilai dan manfaat bagi pelanggan.

4. Putuskan fitur apa saja yang akan ditawarkan pada pelanggan.

Pada tahap ini, Anda siap untuk memfilter dan mencari fitur apa yang ingin Anda tawarkan di MVP Anda.

Ajukan pertanyaan, misalnya tentang apa yang diinginkan pelanggan saya?  Apa yang dibutuhkan pelanggan saya? Dari beberapa pertanyaan tersebut, Anda bisa lebih mudah menentukan prioritas yang tepat.

Contoh Minimum Viable Product dan Penerapannya.

Photo by ThisisEngineering RAEng on Unsplash

Oke, Anda ingin tau, gimana sih penerapan dan contoh Minimum Viable Product di kehidupan nyata?

Mari kita lihat beberapa contohnya berikut, ya!

1. Instagram.

Ketika baru saja memulai bisnisnya, Kevin Systrom mengembangkan dan mengumpulkan dana untuk aplikasi seluler yang dia beri nama Burbn. Aplikasi ini bertujuan untuk memungkinkan orang untuk check-in dan berbagi pandangan mereka dari berbagai lokasi.

Aplikasi ini ternyata tidak langsung sukses dan Kevin menyadari bahwa orang-orang lebih tertarik pada fungsi berbagi foto.

Oleh karena itu, tim Burbn mengubah fokusnya pada satu fitur saja yaitu, berbagi foto. Nah, dari ide inilah sekarang semua orang tau, bagaimana Instagram telah sukses mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat milenial dengan berbagi foto.

2. Airbnb.

Pendiri Airbnb pernah menghadapi masa sulit ketika harus mengakomodasi tamu yang datang saat konferensi bisnis penting. Semua hotel di kota penuh dan mulailah dikembangkan aplikasi Airbnb untuk mengatasinya.

Idenya adalah semua orang bisa mendapatkan penginapan yang layak, cukup sekali klik, tanpa ribet.

3. Amazon.

Gak ada yang menyangka, usaha yang awalnya dirintis sebagai toko buku online pada 1994, kini berubah menjadi eCommerce raksasa di planet bumi.

Konsep saat awal dibuka, Amazon hanya menjual buku-buku dengan biaya yang murah. Kita bisa mengatakan bahwa ide di balik Amazon dulu dan sekarang hampir sama.

Tapi, yang berubah adalah jumlah fitur dan produk yang ditawarkan dalam satu platform. Versi pertama Amazon adalah contoh khas proyek MVP di mana semuanya berubah dari kecil menjadi besar!


Unsplash.com

Gimana, sudah mulai memahami apa pengertian Minimum Viable Product? Kalau Anda berencana memulai usaha baru atau mungkin akan meluncurkan produk dan layanan baru, pastikan untuk membuat Minimum Viable Product (MVP) terlebih dulu, yaa.

Setelah meluncurkan MVP, Anda bisa mengumpulkan testimoni, ulasan, atau feedback dan komentar dari para pelanggan secara realistis. Sehingga, bisa memperbaiki layanan atau produk apa yang perlu dibenahi dan ditingkatkan lagi.

Semoga artikel ini bisa membantu Anda memulai perjalanan bisnis Anda yang sukses, ya. Teruslah berinovasi, mempelajari, dan mengukur produk atau layanan Anda agar bisa meningkat ke level selanjutnya, serta selangkah lebih unggul dari para pesaing.

Mari kontak bantuan@mayar.id jika Anda memiliki pertanyaan, butuh bantuan, atau ide topik artikel menarik yang ingin dibahas berikutnya. Salam sukses!

Source img: Photo by ThisisEngineering RAEng on Unsplash