Headless Commerce Indonesia dan Contoh Penerapannya

Headless Commerce Indonesia dan Contoh Penerapannya

Platform e-commerce atau online shop sudah jadi hal lumrah dalam bisnis marketing saat ini. Kalau dulu butuh waktu hitungan minggu atau bulan untuk membuat website toko online, sekarang hanya butuh hitungan menit, platform e-commerce sudah siap jualan!

Apalagi, sekarang muncul strategi headless commerce untuk memisahkan antara bagian front-end (yang tampil dilihat pelanggan) dan back-end (penyimpanan database dan transaksi penjualan).

Headless commerce Indonesia sekarang mulai berkembang seiring waktu. Banyak pelanggan yang ingin mendapat pengalaman belanja yang lebih modern. Misalnya, lewat asisten suara, aplikasi, atau media sosial, dan lainnya.

Sudah sepatutnya setiap perusahaan berinovasi dengan headless commerce Indonesia agar transaksi bisa lebih cepat dan mudah.

Terus, gimana cara menerapkan headless commerce Indonesia? Dan apakah headless commerce mampu memecahkan tantangan e-Commerce di Indonesia? Ikuti terus ulasannya di bawah ini, ya!

Bagaimana Headless Commerce Memecahkan Tantangan eCommerce?

Dengan headless commerce, sistem e-commerce dapat meningkatkan layanan dan kecepatan transaksi tanpa harus bergantung pada satu sistem tunggal.

Kadang, ketika database down atau metode pembayaran bermasalah, seluruh website tidak bisa diakses. Atau, bahkan, website e-Commerce harus dimatikan sementara selama beberapa waktu.

Hal ini tentunya akan sangat mengganggu produktivitas kinerja e-Commerce dan penjualan.

Kenapa harus menggunakan headless commerce? Ada 3 alasannya!

#1: Fleksibilitas & Kustomisasi.

Mengelola konten dan membagikan ke channel marketing mana pun jadi lebih mudah. Pasalnya, tidak ada front-end, developer website bisa menciptakan pengalaman pengguna (UX) tanpa kendala.

Padahal, kalau memakai CMS yang sudah menjadi kesatuan antara front-end dan back-end, hal ini tentu sulit dilakukan.

Kustomisasi melibatkan sistem yang cepat dan mudah. Misalnya, website bisa diintegrasikan dengan logistik, pengiriman, ERP, alur check-out, dashboard pelanggan, dan lainnya. Semuanya bisa dibuat dengan headless commerce.

#2: Memadukan API.

Dalam headless commerce, developer website e-Commerce bebas menentukan mau seperti apa data ditampilkan pada bagian front-end, dengan bantuan API.

Apapun perangkat pengguna, mulai dari aplikasi website hingga perangkat IoT, dapat terintegrasi dengan CMS (content management system).

Contoh API yang paling populer dipakai dalam headless commerce adalah REST dan GraphQL. API ini dapat diintegrasikan dengan channel marketing apa pun, untuk menciptakan pengalaman omnichannel yang lebih mumpuni.

#3: Mempersiapkan Masa Depan.

Satu lagi, headless commerce Indonesia dapat dengan cepat menerapkan dan mengembangkan solusi baru untuk kecepatan website. Sebab, tidak perlu konfigurasi ulang back-end.

Selain itu, arsitektur yang terpisah dalam headless commerce dapat memfasilitasi integrasi tanpa batas dengan sistem baru yang menjangkau konsumen dengan cepat.

headless commerce Indonesia memungkinkan untuk mendukung teknologi dan tren yang lebih baru, sehingga layanan bisa terus ditingkatkan dan berinovasi sesuai zaman.

Bagaimana headless commerce Indonesia Membantu Bisnis?

Ingin membangun bisnis yang efisien dan aman dengan platform terbaik? Harus itu! Headless commerce Indonesia siap membantu bisnis dengan cara membangun konten dan  sistem yang skalabel.

Karena berpusat pada API, e-Commerce bisa dilakukan dimana pun. Hasilnya, bisnis akan lebih fleksibel mengikuti kemajuan teknologi terbaru.

Contoh penerapan headless commerce Indonesia

Salah satu contoh e-Commerce ternama di tanah air yang menerapkan strategi headless commerce Indonesia adalah Blibli.

Website e-Commerce yang identik dengan warna biru ini turut menyediakan platform Blibli for Business untuk menyediakan layanan B2B (business-to-business) di Indonesia.

Agar semakin memaksimalkan layanan, Blibli memilih fitur SAP Commerce Cloud yang inovatif. Dikutip dari Managing Director SAP Indonesia, Andreas Diantoro, SAP mendukung strategi headless commerce sehingga memudahkan pengguna untuk upgrade, berinovasi dengan teknologi Cloud terbaru, serta didukung Disaster Recovery yang handal.

Proses jual beli dalam e-Commerce Blibli akan jauh lebih mudah baik online maupun offline. Sebab, headless commerce Indonesia yang diterapkan saat ini terintegrasi dengan aplikasi back-office untuk mengupdate stok barang, status pembayaran, update harga, dan proses pengiriman barang yang transparan.

Berbekal teknologi yang didukung headless commerce Indonesia, platform Blibli sebagai e-Commerce, mampu mempercepat proses pengembangan atau deployment. Sebab, antara front-end dan back-end memiliki bagian terpisah.

Kalau e-Commerce pada umumnya, data pelanggan dan produk disimpan tersebar di beberapa sistem dan aplikasi, maka Blibli berbeda. BliBli didukung SAP Commerce Cloud yang terintegrasi agar lebih efisien dan sistem bekerja secara otomatis.

Aplikasi lain yang bisa diintegrasikan, di antaranya: logistik, pengiriman barang, payment service provider, dan lainnya, agar bisnis bisa menyediakan single source yang akurat di area front office.

Bagaimana cara kerja headless commerce?

Headless commerce bekerja dengan memisahkan bagian presentasi/ tampilan frontend dari fungsi transaksi di backend. Alih-alih satu perangkat lunak yang menangani tampilan dan proses backend, fungsi-fungsi ini dapat ditangani oleh dua atau lebih teknologi.

Frontend dan backend kemudian dapat berkomunikasi satu sama lain dan berbagi data melalui API. Jadi, antara front-end dan back-end merupakan dua bagian terpisah, namun tetap bisa saling berkomunikasi dan membagikan data.

Hal ini sangat mendukung dalam proses pengembangan website yang biasanya butuh waktu lama dan ribet, menjadi lebih cepat dan praktis.

Apakah headless commerce fleksibel?

Jawabannya, sederhana. Ya, headless commerce memberikan lebih banyak fleksibilitas karena bisnis tidak harus memilih hanya satu teknologi untuk memenuhi semua kebutuhan e-Commerce.

Sebagai gantinya, perusahaan dapat menggabungkan berbagai teknologi untuk lapisan presentasi frontend dan memasangkannya dengan mesin e-Commerce di backend.

Opsi tampilan untuk frontend misalnya, bisa dipilih seperti: sistem manajemen konten (CMS), platform pengalaman digital, aplikasi web progresif, dan banyak lagi.

Langkah apa yang dibutuhkan untuk mengadopsi solusi headless commerce?

Untuk memanfaatkan headless commerce, Anda harus terlebih dahulu memilih platform ecommerce yang mampu mendukungnya. Terutama, yang bisa mendukung API dengan baik.

Sebab, headless commerce dapat menghubungkan komunikasi antara front-end dan back-end melalui sistem API.

Setelah Anda memilih platform e-Commercce Anda, Anda harus memilih solusi frontend yang ingin dipakai, misalnya CMS Shopify atau Magento.

Jika Anda sudah terbiasa atau sedang menggunakan teknologi tertentu, hal ini sangat bagus, karena akan lebih mudah untuk memulai penerapan headless commerce.

Setelah Anda memilih teknologi, Anda juga bisa meminta bantuan web developer agar bisa berkonsultasi membangun dan mendesain website e-Commerce yang diinginkan.

Apakah memerlukan web developer untuk menerapkan headless commerce?

Jawabannya, bergantung pada kemampuan Anda sendiri. Bisa ya (butuh dibantu) bisa tidak perlu. Sebab, terkadang karena kesibukan atau aktivitas yang menuntut Anda lebih fokus ke bisnis, pengembangan website bisa dialihkan ke tenaga profesional seperti web developer yang siap membantu membangun website headless commerce.

Apalagi, jika perusahaan atau startup belum memiliki tim internal khusus, Anda bisa menyewa freelance web developer agar pengembangan website bisa selesai tepat waktu.

Mengapa headless commerce sekarang lebih penting dari sebelumnya?

Headless commerce semakin penting seiring dengan meningkatnya ekspektasi pelanggan. Penjualan online tinggi, tetapi begitu juga persaingannya.

Pelanggan memerlukan alasan untuk memilih satu merek daripada merek lainnya, dan pengalaman digital yang mereka miliki di website brand tertentu akan sangat berpengaruh pada keputusan belanja.

Headless memungkinkan brand untuk memberikan pengalaman inovatif yang semakin diharapkan oleh pelanggan.

Di masa depan, tren e-Commerce dan teknologinya juga akan melesat. Strategi headless commerce memungkinkan Anda untuk bisa meluncurkan pengalaman atau fitur baru di bagian front-end, katakanlah menambahkan chatbot dengan suara misalnya, tanpa memengaruhi algoritma dan sistem di bagian back-end.

Hal ini tentunya akan sangat berbeda dengan website tradisional yang masih kaku. Jika ada perubahan di bagian tampilan, maka database juga ikut berubah hingga memakan waktu berbulan-bulan dan mahal.

Dengan menghilangkan “keribetan” tersebut, headless commerce memungkinkan front-end dan back-end disesuaikan secara cepat dan praktis memakai API.

Jadi, gimana, Anda tertarik untuk menerapkan headless commerce untuk website e-Commerce Anda?

Source image: Photo by Kindel Media from Pexels